Iman dan Persoalannya (1/2)

Iman adalah asas penting, yang menjadi landasan tempat berdirinya peribadi mukmin. Kalau
manusia diibaratkan seperti sebatang pokok, maka iman adalah akar tunjang untuk pokok itu.
Kalau manusia diibaratkan seperti sebuah rumah, maka iman adalah tapak berdirinya rumah
itu.

  

Demikianlah pentingnya iman dalam usaha melahirkan seorang manusia yang sempurna dan diredhai Allah SWT. Tanpa iman, seseorang itu akan sama seperti pokok yang tidak berakar tunjang atau rumah yang tidak memiliki “foundation”. Maknanya, seseorang yang tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan hidup. Dia pasti gagal.
Kalaupun ada tanda-tanda Islam melalui ibadah lahir, tetapi ibadah itu tidak akan berfungsi
apa-apa sewaktu manusia yang tidak memiliki iman berhadapan dengan persoalan-persoalan
hidup. Semakin banyak ibadah, semakin cepat gagalnya, seperti halnya semakin besar pokok
yang tidak berakar tunjang, maka semakin cepat tumbangnya atau makin besar rumah yang
didirikan di atas lumpur, makin cepat robohnya.
Datang ujian kecil pun, orang yang tidak memiliki iman sudah goyang. Apalagi ketika
berhadapan dengan ujian-ujian yang besar, hanyut dan tenggelamlah ia. Sejarah telah
membuktikan hal itu dalam berbagai bentuk. Seorang wali Allah dengan ‘karamah-karamah’
yang luar biasa, pengikut berpuluh ribu dan ibadah pun seperti ibadah nabi-nabi, tetapi di
akhir hayatnya telah kafir kerana telah berhasil ditipu oleh syaitan hanya dengan seteguk arak
dan seorang wanita.
Islam dapat tegak dan kekar dalam peribadi atau masyarakat manusia hanya kerana ada dan
kuatnya iman. Tanpa iman yang kuat, Islam hanyalah satu simbol lahiriah yang diamalkan
sebagai satu amalan tradisi dan kebiasaan semata-mata. Sebaliknya iman yang kuat akan
menghasilkan peribadi yang benar-benar kuat dan Islamic.
Islam adalah amalan lahir, Iman adalah amalan hati (batin). Kalau iman kuat, Islam pasti
kuat. Tetapi kalau Islam yang kuat belum tentu imannya kuat. Hal ini mesti diperhatikan
betul-betul. Jangan sampai kita menjadi orang yang kuat beramal saja tetapi lemah imannya,
sebaliknya jadilah orang yang kuat beriman dan kuat beramal. Allah menjanjikan keuntungan
tertentu hanya bagi orang-orang yang beriman dan beramal.
Firman Allah swt:
103:1
103:2
103:3
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu semuanya berada dalam kerugian. Kecuali orang
orang yang beriman dan beramal soleh”
[Al ‘Asr: 1-3]
Allah menyebutkan iman terlebih dahulu, sebagai syarat bahawa amalan yang diawali atau
didorong dengan iman sajalah yang akan dinilai. Rasulullah turut mengingatkan itu dengan
sabda baginda:
“Allah tidak melihat kepada rupamu dan hartamu (gambaran lahir) tetapi Dia melihat hati
kamu dan amalan kamu”
[Riwayat Muslim]
Sebanyak apapun amalan lahir seperti solat, puasa, menutup aurat, zikir, doa, sedekah,
berjuang dan berjihad tidak ada erti apa-apa di sisi Allah.
Saya tegaskan sekali lagi bahawa, orang-orang yang beriman sudah tentu akan beramal.
Tetapi orang yang beramal belum tentu benar-benar beriman. Dan orang lain yang tidak
beramal sama sekali, tentu lebih lemah imannya atau tidak memiliki iman sama sekali. Sebab
itu Allah sering mengingatkan bahawa amalan yang akan diterima-Nya hanyalah amalan dari
orang-orang yang beriman. Di antara firman-firman Allah yang menunjukkan demikian
adalah:
21:94
“Maka siapa yang mengerjakan amal soleh, sedang ia beriman, maka usahanya itu tidak
diabaikan dan sesungguhnya kami menuliskan amalan itu untuknya”
[Al Anbia : 94]
2:82
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu penghuni Syurga, mereka
kekal di dalamnya”
[Al Baqarah : 82]
Berdasarkan ayat-ayat itu, kita hendaknya paham atau sadar tentang pentingnya iman itu
melebihi amalan-amalan yang lain. Orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau beramal
adalah penipu. Orang yang beramal tapi tidak beriman adalah tertipu. Oleh sebab itu
sebaiknya bersiap-siap untuk memeriksa hati kita sendiri, apakah beriman atau tidak. Cara
pemeriksaan itu hendaknya sistematik dan ilmiah, bukan mengira-ngira tanpa panduan.
Iman menurut lughah (bahasa yang digunakan sehari-hari) bererti percaya. Sebab itu orang
yang beriman dikatakan orang yang percaya. Siapa yang percaya maka dia dikatakan
beriman. Tidak ada huraian tentang bagaimana cara dan syarat percaya yang dimaksud.
Yang kedua takrif (pengertian) iman menurut istilah syariat Islam adalah seperti disabdakan
oleh Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Iman adalah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan dengan
jasad (anggota lahir)” [At Tabrani]
Dengan Hadis itu kita diberitahu bahawa iman adalah keyakinan yang dibenarkan oleh hati,
diucapkan dengan mulut (lidah) dan dibuktikan dengan amalan. Ringkasnya orang yang
beriman adalah orang yang percaya, mengaku dan mengamalkannya. Tanpa ketiga syarat itu,
orang itu belum tentu dikatakan memiliki iman yang sempurna. Bila satu dari tiga faktor itu
tidak ada, maka dalam Islam orang itu akan dimasukkan ke dalam golongan lain, mungkin
fasik, munafik atau kafir.
Mari kita lihat apa yang terjadi pada orang yang tidak memenuhi ke-3 syarat iman tersebut :
1. Seseorang yang beriman dengan ucapan “Lailahaillallah” dan memiliki keyakinan, tetapi tidak beramal atau amalannya tidak sempurna sebagaimana yang dikehendaki, dimasukkan dalam golongan mukmin yang fasik atau mukmin ‘asi (durhaka). Di akhirat nanti tempat mereka adalah Neraka. Bila iman yang dimiliki itu sah, maka masih ada peluang untuknya ke Syurga, setelah disiksa dengan siksaan yang pedih.
2. Seseorang yang memiliki keyakinan tetapi tidak mau mengikrarkan “Lailahaillallah” baik beramal atau tidak, dimasukkan kedalam golongan kafir. Ada juga qaul yang memasukkan mereka dalam golongan fasik. Tapi menurut qaul yang lebih kuat, mereka termasuk golongan kafir. Bila meninggal mereka tidak boleh dikuburkan di tanah pekuburan Islam, dan di akhirat nanti akan kekal tersiksa dalam Neraka.
3. Seseorang yang mengucapkan “Lailahaillallah”, kemudian beramal dengan segala
tuntutannya (sedikit atau banyak) tetapi keyakinannya masih diliputi keragu-raguan,
digolongkan sebagai orang munafik. Ragu-ragu yang dimasukkan di sini bukan saja pada Allah, tetapi mungkin pada Rasul, malaikat, kitab, hari Kiamat atau qadha dan qadar. Apabila seseorang mengucapkan kalimat tersebut, maka ia menjadi seorang Islam. Tetapi belum bisa dikatakan beriman, walaupun ia mengerjakan solat, puasa, zakat dan haji.
Hal ini diberitahukan oleh Allah SWT melalui firman-Nya:
49:14
“Orang Arab Badwi itu berkata “Kami telah beriman,” Katakanlah (pada mereka), “Kamu
belum beriman.” Tetapi katakanlah olehmu “Kami telah tunduk (Islam),” kerana iman itu
belum masuk kedalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan
mengurangi sedikit pun (pahala amalanmu), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
[Al Hujurat : 14]
Dari ayat itu dapat diambil kesimpulan bahawa:
  1. Seseorang yang Islam belum pasti beriman, tetapi orang yang beriman sudah pasti Islam.
  2. Islam dapat diketahui melalui amalan-amalan lahir, sedangkan iman adalah amalan hati (batin).

Sila ke post “Iman Dan Persoalannya: Peringkat Iman” (2/2) untuk baca seterusnnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s